Pernah Nonton: Layla Majnun (2021) yang Indonesia Banget



Katakan padaku, siapa orang yang bisa bebas dari penyakit cinta?

Hari ini, tepatnya sore hari ini, saya menyelesaikan satu film yang sebelumnya turut menarik perhatian saya karena ada Reza Rahadian-nya. Heuheuheu. Judul filmnya adalah Layla Majnun. Film ini dibintangi oleh Acha Septriasa dan seperti yang sudah saya sebutkan, Reza Rahadian, sebagai pemeran utama. Sebelum menontonnya, saya menaruh ekspektasi yang tinggi pada film ini. Saya membayangkan akan ada adegan yang menguras emosi dan air mata saya karena seperti yang kita tahu bahwa kisah legendaris dari Layla dan Majnun merupakan kisah cinta romantis yang berakhir tragis. Tapi, saya agak sedikit dikejutkan dengan ending cerita dari film Layla dan Majnun ini.


Film Layla Majnun ini berdurasi 1 jam 59 menit alias dua jam kurang satu menit, yang bisa ditonton di aplikasi streaming Netflix. Ditulis oleh Monty Tiwa dan Alim Sudio, film ini bergenre Indonesian, Dramas, Romance, dan Romantic Dramas. Film ini mengusung latar ke-timuran yang juga 'Indonesia banget'. Di awal cerita, Layla, yang diperankan oleh Acha, diperlihatkan seperti seorang perempuan yang betul-betul menjunjung tinggi hak perempuan. Namun sayang, prinsipnya harus berbenturan dengan budaya Indonesia yang seperti kita tahu, seperti memenjarakan hak perempuan untuk dapat memilih apa yang dia inginkan karena harus manut sama budaya dan lingkungan. Bersamaan dengan itu, Samir, yang diperankan oleh Reza, betul-betul terasa seperti orang Azerbaijan asli karena dialog demi dialog bahkan dalam Bahasa Azeri pun logatnya kena banget. 

Mantulnya lagi, film ini dengan bagus memperkenalkan penonton pada sejarah dan kebudayaan dari Azerbaijan. Mulai dari beberapa lokasi bersejarah seperti patung Nizami Ganjavi-sang legendaris di balik kisah Layla wa Majnun, kota tua Baku, Maiden Tower, serta Danau Caspian berikut dengan makanan khasnya yaitu black caviar yang konon rasanya akan semakin enak jika dimakan saat jatuh cinta~ Selain itu, film ini juga menceritakan lingkungan dan budaya yang Indonesia banget dengan apik dan tidak norak, seperti adegan 'mimik miras' yang jujur, membuat saya terkekeh padahal saya tengah merasakan emosi kesedihan akibat adegan tertentu. Atau adegan kampanye politik yang... yah, kita tahulah bagaimana. Dalam cerita ini disinggung juga dengan mantap mengenai budaya kita yang terkenal yaitu wayang kulit. Pokoknya, keseimbangan dalam menggambarkan antara kedua budaya yang berbeda ini bisa dibilang top, deh, menurut saya. 

Film Layla Majnun ini mengejutkan saya dengan memberikan ending yang agak sedikit mind blowing, pokoknya tidak disangka-sangka, tapi tidak lebay. Apalagi pemeran pendukung yang diperankan oleh Baim Wong, peran sebagai orang yang awalnya menarik simpati akan kebaikannya tapi dikagetkan dengan perilakunya yang ngeselin abis itu benar-benar mampu membuat saya sebel. Oh iya, saya selalu suka adegan yang menyisipkan beberapa kata-kata puitis nan romantis yang klasik, ini patut diapresiasi karena sudah lama saya tidak menjumpai adegan yang menyisipkan adegan klasik yang puitis macam di film ini. Sejauh saya menonton film ini, saya merasa puas meski masih ada beberapa emosi yang agak nanggung karena beberapa adegan rasanya kurang terselesaikan dengan los dol. Tapi, film ini juga menguras emosi saya, buktinya saya menangis, lho~

Saya memberikan rate untuk film ini 8.5/10. Sebagai penutup, saya kasih kutipan yang saya sukai dari film ini, yang juga diambil dari cuplikan kisah legendaris Layla Majnun-nya Nizami Ganjavi: 

Kau adalah semua yang salah yang ada pada diriku
Namun pada saat yang sama kau adalah penyakitku
Oh, apa yang dapat kukatakan?
Kau adalah segalanya bagiku
Kebaikanku, keburukanku, sakitku, dan penyembuhku

Pernah Nonton: Layla Majnun (2021) yang Indonesia Banget Pernah Nonton: Layla Majnun (2021) yang Indonesia Banget Reviewed by Leony Sherena on Februari 18, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.